Rabu, 13 Mei 2015

Dakek (adv. Dekat)



Bagai jarak dua samudera dalam atlas dunia yang ditelaah seorang bocah 4 SD di bangku sekolah, aku mengenalnya. Skala yang merekat bukanlah sebuah sekat untuk membuat kita tak bisa dekat seperti sahabat.

Inilah Dakek (adv. Dekat)


Akulah Samudera Hadiputera atau Sam, yang lebih sering dijuluki Samudera Pasifik karena ukuran tubuhku yang luas, disamping panggilan bully yang lain tentunya. Sementara Arti, gadis mungil dan eksotis yang juga tak jarang mendapat olokan teman-teman sekelas karena keadaan cacat literal alias cadel yang dimilikinya sejak lahir. Aku  selalu diam jika mendengar olokan teman-teman sementara Arti lebih sering menangis, sama seperti Samudera Arktik yang sebagian besar wilayahnya tertutup es dan mencair jika musim panas tiba, atau jika bola-bola api sengaja dilempar.

Nasib membuat kami perlahan dekat, sebagai sahabat. Bermain, belajar bersama, atau sekedar mencorat-coret atlas adalah kegiatan yang tak pernah membosankan bagi kami. Aku pernah menggambar sebuah jembatan pada atlas yang dimilikinya, jembatan yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Arktik. Bahwa tak harus memiliki kesamaan yang luar biasa untuk bisa menjadi dekat.

Prestasi yang kami toreh membuat olokan dan cacian sedikit berkurang. Kami merasa seperti kelompok batman dan catwoman yang sebentar lagi bisa memusnahkan kejahatan dunia. Namun tak berlangsung lama, Arti harus pindah ke Sumatera karena bisnis keluarga. Satu tahun terakhirku di sekolah dasar menjadi lebih kelam dari biasanya. Aku sadar bahwa samudera satu tak bisa menahan samudera lainnya untuk tetap mengalir, tak bisa menahan kapal-kapal tetap utuh jika badai tiba.

---

Sebagai seorang junior research executive di salah satu research agency di Jakarta, aku terbiasa menghabiskan waktu di depan laptop. Aku sedang asik surfing harga tiket ke beberapa destinasi liburan di Indonesia melalui tiket.com saat tiba-tiba Mas Panji memanggilku untuk datang ke ruang kerjanya. Rupanya, Mas Panji harus menghadiri acara keluarga tepat di tanggal ia harus melakukan penelitian etnografi di daerah Sumatera Barat. Ia pun memintaku untuk menggantikannya. Bagai terbang rasanya ketika tahu daerah yang akan aku kunjungi adalah Taeh Baruah, sebuah wilayah pelosok Sumatera Barat yang mengingatkanku saat Arti pernah marah karena nama kampungnya itu tak tertulis di atlas.

---

Aku menyelesaikan projek etnografi di Taeh Baruah dengan sangat semangat dan mengambil beberapa hari cuti agar dapat berlibur di sana. Setelah bertanya kesana kemari tentang Arti dan keluarganya, seorang penduduk setempat mengantarkanku ke rumahnya. Hampir tak mengenaliku, Arti berteriak dan menangis bahagia sambil menjabat tanganku untuk masuk ke rumahnya. Kami bertukar masa melalui cerita dan foto-foto nostalgia, saling tertawa dan bangga menjelaskan kesibukan saat ini, serta optimis akan mimpi dan cita-cita yang ada. Seakan 11 tahun bukanlah waktu yang cukup lama dan kuat untuk memisahkan persahabatan.

---

Arti sudah berjanji bahwa ia akan membawaku ke beberapa destinasi terbaik yang ada di Taeh Baruah dan sekitarnya. Destinasi yang akan memperkokoh jembatan persahabatan yang telah kami buat sejak lama.

Dengan menggunakan sepeda motor, destinasi pertama yang kami tuju adalah Lembah Harau. Setelah melintasi jalinsum (Jalur Lintas Sumatera, atau Jalan Lintas Sumatera ya?), kami memasuki daerah Harau. Setelah melintasi daerah persawahan dan rumah penduduk, sampailah kami di gapura Lembah Harau. Selain Lembah Echo yang bisa menimbulkan echo (gaung/gema) ketika kita berteriak di dasar lembah, terdapat pula beberapa air terjun atau yang biasa disebut sarasah. Terdapat tujuh air terjun utama di Lembah Harau, beberapa yang kami kunjungi adalah Sarasah Bunta, Sarasah Murai, Sarasah Aia Angek dan Sarasah Aia Luluih. Masing-masing sarasah memiliki mitos tersendiri, misalnya saja jika kita mandi di Sarasah Aia Luluih, jerawat dapat terobati dan muka akan terlihat awet muda. Terlepas dari mitos tersebut, kami berpendapat bagaimana tidak awet muda jika kita bisa melihat pemandangan air terjun seindah dan sejernih ini.

Sarasah Bunta

Sarasah Aia Luluih

Sarasah Aia Luluih
Setelah destinasi alam, kali ini Arti mengajakku untuk mengunjungi destinasi sejarah Sumatera Barat yaitu Rumah Gadang Sungai Baringin yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Sekilas terdapat 2 rumah gadang di sini. Salah satu rumah gadang memang digunakan sebagai rumah tinggal, sementara rumah gadang lainnya dibuka untuk umum. Setelah parkir dan mendekat ke rumah gadang yang dibuka untuk umum, seorang ibu tua menghampiri kami untuk meminta uang tiket masuk. Pada hari biasa, pengunjung dikenakan harga 5 ribu rupiah per orang sementara pada hari libur atau weekend, pengunjung dikenakan harga 10 ribu rupiah per orang. Terdapat harga khusus pula bagi yang ingin mengadakan pre-wedding photo session.
Rumah Gadang yang digunakan sebagai rumah tinggal

Rumah Gadang yang boleh dikunjungi

Kemegahan Rumah Gadang Sungai Baringin

Rangkiang di sebelah kanan rumah

Selain rumah gadang, di area Rumah Gadang Sungai Baringin juga terdapat 2 bangunan rangkiang/lumbung (sejenis rumah panggung kecil untuk menyimpan beras/padi) dengan atap gonjong, taman luas yang indah (kalo berdiri di balkon rumah gadang kita akan merasa seperti seorang raja yang sedang melihat taman kerajaan), kincir air di dekat gerbang masuk yang saat ini sepertinya sudah tidak berfungsi, serta beberapa gazebo berisi alat-alat tradisional seperti alat penumbuk dan pengolah biji besi.

Alat penumbuk padi
Alat pandai besi
Meskipun terdapat rumah gadang yang dibuka untuk umum, rumah gadang tersebut tidak selalu bisa kita masuki. Kenapa? Karena di hari-hari tertentu, rumah gadang tersebut juga disewakan untuk keperluan pesta, biasanya pesta pernikahan.

Terdapat motif sirih gadang pada rumah gadang  tradisional yang diinspirasi dari tumbuhan yang ada di alam sekitar. Motif ini mirip dengan bentuk motif sirih pada ukiran menhir yang merupakan tinggalan budaya megalitik di Kabupaten Limapuluh Kota. Motif ini bukan hanya mempunyai nilai estetis, tapi juga menyimbolkan kegembiraan dan persahabatan. Hal ini menunjukkan bahwa kemanapun orang Sumatera pergi, mereka akan selalu membawa persediaan sirih lengkap dan selalu menghidangkannya pada tamu untuk dimakan sebagai lambang penerimaan dan persahabatan.

Seperti tertuang dalam pantun:
Sabalun kato ka dimulai (sebelum rundingan dimulai)
Sabalun karajo ka dikakok (sebelum kerja dilaksanakan)
Adat duduak sirih manyirih (adat duduk sirih menyirih)
Adat carano dipalegakan (adat carano diperedarkan)

 “Tak perlu lah kita berdua makan daun sirih untuk menunjukkan rasa persahabatan, cukup traktir aku sate padang paling lezat di sini saja,” candaku pada Arti. Rupanya Arti langsung mengajak aku untuk berwisata kuliner ke Sate Padang Danguang-Danguang. Mari kita coba!

Satu tusuk saja aku langsung terbang dibuatnya. Parah banget enaknya! Kalau boleh lebay sih, sate padang di Jakarta berasa asepnya doang. Rasa rempah-rempah di dagingnya tuh rich tapi tetep pas, Minang banget. Tekstur dagingnya juga lembuut banget, effortless waktu digigit. This is da best! Kalau kuah kuningnyo sih salero uni uda, agak mirip rasa kuah gulai kuning tapi tetap sekental kuah sate padang pada umumnya. Aku bahkan lebih suka makan satenya tanpa kuah, lamaaaaaak banaaa! Oiya, aku juga baru tahu kalo makan sate padang itu lebih baik kalo lontong dan kuahnya dimakan tanpa sendok, jadi langsung ditusuk-tusuk dan dioles ke lontong pake tusukan satenya. Karena, sekali kena sendok dan air liur kita, kuahnya akan berangsur-angsur jadi lebih encer dan mudah dingin.

Sate Danguang-Danguang
Persahabatan tuh memang kayak sate padang Danguang-Danguang. Meskipun tertusuk-tusuk masalah dan problematika namun akan tetap bersatu. Meskipun tak bisa bertemu setiap waktu namun akan tetap diingat dan bikin kangen. Sampai saat ini, aku selalu chatting sama Arti tiap kali makan sate padang. Aku bilang sama dia kalau rasa sate padang di kampungnya nggak bisa tergantikan, sama seperti persahabatan kita.


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

Kamis, 19 Februari 2015

The Last Days (Day 19&20, Jumat dan Sabtu, 13-14 Februari 2015)

Sedih banget karena udah harus balik ke Jakarta.

Setelah sholat Jumat, saya dan Jorgi keliling kota cari oleh-oleh, termasuk beli kaos berbahasa minang di toko kaos Tangkelek. Rendang daging, rendang telur, rendang sayur, kripik singkong balado, kripik singkong jagung, beras randang, kaos minang, semuanya sudah dishikat.

Malam harinya, kami berpamitan ke beberapa saudara. Sebuah kebiasaan yang nggak pernah saya lakukan di Malang kalau harus balik ke Jakarta. Agak peer sih sebenarnya. Tapi like any other things, semua hal pasti ada sisi positifnya. Jadinya sillaturahim jalan terus, makan jajanan di tiap rumah juga jalan terus, duit pesangon (buat si Jorgi doang sih) juga jalan terus. HAHAHA

Malem harinya banget disempetin ke Danguang-Danguang buat makan sate In-Bur yang super lezat itu sekali lagi, sebelum akhirnya packing sambil sedih-sedihan homesick. Gimana nggak homesick Sob kalo 20 hari tinggal di suatu tempat yang luar biasa menyenangkannya. Udaranya adem, orang-orangnya ramah banget, makanannya enak dan murah, tempat wisatanya banyak, alamnya masih asri. Hiks, ini lagi ngetik draf di Jakarta aja masih nggak percaya udah nggak di Payakumbuh.

Pada hari Sabtunya, pukul setengah 8 pagi, tante mengantarkan kami ke Didi Travel di Payakumbuh buat selanjutnya ke Bandara Minangkabau di Padang. See ya again, super soooooon, Sumatera Barat! :D

Memasak Rendang Daging! (Day 18 – Kamis, 12 Februari 2015)

Hari ini akhirnya kita mendapat kepastian kapan boleh balik ke Jakarta.

Siang hari, setelah tante ngumpul acara PKK, kita pergi ke Kota Payakumbuh buat bayar tiket pesawat sekaligus belanja ke Pasar Ibuh bahan-bahan buat bikin rendang daging!

Sore harinya, saya bantu tante buat bikin rendang. Buat 2,5 kg daging sapi aja, dibutuhin santan kental dari 11 buah kelapa Sob. Sebelas! Gila nggak tuh. Dari jam 6 sore sampai 9 malam saya bergantian bersama Jorgi, tante, dan yang lainnya mengaduk santan berisi bumbu dan daging sampai menjadi rendang basah atau rendang kalio. Baru keesokan paginya dilanjutin ngaduk lagi sekitar 2 jam buat jadi rendang kering yang sesungguhnya.

Berbelanja daging di Pasar Ibuh Payakumbuh
Lado Ijo
Saya memasak rendang dengan menggunakan kayu bakar
Bawang Merah dan Bawang Putih
Mengaduk kuali besar part 1
Mengaduk kuali besar part 2
Mengaduk kuali besar part 3 (memasukkan daging)
Mengaduk kuali besar part 4 (minyak dari santan sudah mulai keluar)
Rendangnya matang!!!

Bermain KIM (Day 17 – Rabu, 11 Februari 2015)

Hari ini termasuk hari yang dinanti-nantikan warga Taeh Baruah nih Sob. Karena, BAMUS alias Badan Musyawarah yang akan bertugas sampai 2020 nanti telah terbentuk dan akan diadakan syukuran pelantikan nanti malam.

Sebelumnya, sore harinya saya muter-muter kampung aja pake motor. Niatnya pengen ke waduk di daerah Piobang. Tapi apadaya salah belok dan nggak nanya-nanya warga sekitar. Ujung-ujungnya malah nembus rumah gadang sungai baringin yang kita datengin kemaren. Daripada langsung balik ke rumah dengan tangan (dan perut) hampa, mari kita keluarkan jiwa-jiwa ngidam. Emang sih, kalau di Sumatera Barat ya enaknya makan masakan sini, tapi udah 2 minggu lebih kan Sob makan santan santan forever, pengen gitu yang jawa jawa dikit. Daaaan, setelah sempat kelewatan, akhirnya daku putar balik ke warung sate, sate madura! Disini hampir tiap hari (bisa sehari 2-3 kali) makan sate sih, tapi satenya kan sate padang (kadang sate daging, sate ayam, sate ceker, sampe buntut). Dengan lahapnya daku menyantap sate ayam madura yang manis, asin, dan pedas ini. Semuanya dishikaaat sampe lupa difoto dulu.

Nah sekitar jam 9 malam, kami semua keluar dari rumah menuju Balai Desa (atau Balai Nagari) bersama dengan ribuan orang lainnya. Seperti yang sudah sempat saya bahas sebelumnya, malam ini kami akan merayakan peresmian pembentukan BAMUS (Badan Musyawarah). Tapi kali ini acaranya bukan peresmian biasa Sob. Terdapat sebuah permainan berhadiah yang bernama KIM, bukan Kim Jong Un atau Kim Kardashian yaaa (krik).

Begini permainannya.

  1. Setiap orang akan mendapatkan satu set kertas berisi 5 lembar kertas dengan warna yang berbeda. Tiap lembar kertas berisikan 5 angka mendatar dan 6 angka menurun, jadi totalnya ada 30 angka acak dari 1 hingga 90.
  2. Abaikan saja kotak-kotak kosong yang tidak ada angkanya.
  3. Nantinya, seorang penyanyi melayu di panggung akan bernyanyi sembari mengocok kaleng berisi angka dari 1 sampai 90.
  4. Di ujung-ujung syair nyanyian, penyanyi akan menyebutkan angka tersentu (bisa satuan, belasan, atau puluhan tergantung dari hasil kocokan kaleng) dalam bahasa Minang.
  5. Nah, jika angka yang disebutkan oleh penyanyi adalah angka yang terdapat di kertas kita, kita bisa melingkari angka tersebut.
  6. Tugas kita adalah, segera maju ke panggung untuk mendapatkan hadiah jika kertas yang kita pegang sudah menciptakan deret horizontal (mendatar) dengan keseluruhan angka mendatar terlingkar.
  7. Jika jumlah hadiah dalam 1 babak sudah habis, kita akan diminta untuk berganti ke lembar kertas berikutnya untuk memperebutkan hadiah dengan nilai yang lebih tinggi, misalnya dari lembar awal berwarna hijau beralih ke lembar berikutnya berwarna pink.
  8. Biasanya, di 2 lembar terakhir (lembar biru dan putih), permainan akan semakin seru dan menantang karena kita harus mengumpulkan lebih dari 1 deret horizontal. Bahkan, untuk hadiah terakhir (yang pada malam itu adalah sepaker dengan ukuran jumbo), kita diminta mengumpulkan 6 deret horizontal which is semua angka di kertas putih harus terlingkar.
  9. Dalam permainan KIM, kita tidak akan bisa curang dengan melingkari angka yang belum disebutkan karena setiap angka yang disebutkan akan ditampilkan pada layar infokus di panggung.
  10. Disebut COKI untuk keadaan dimana kondisi deret horizontal kita kurang 1 angka lagi. Di lembar kedua, saya COKI nih. Tinggal ngarep angka 85 disebut buat dapet hadiah. Dannnn, ketika angka 85 disebut, adrenalinnya sama kayak kalo naik kora-kora di Dufan Sob. Amazing. Saya langsung nyobek kertas pink dan ngasih ke Martha (sepupu Jorgi) buat lari ke panggung, ngecek apakah rangkaian angka saya benar dan layak mendapat hadiah. Kenapa nyuruh Martha? Selain karena doi badannya kecil dan bisa sat set sat set nyelip ribuan orang, entar warga disana bisa kisruh kalo yang dapet hadiah bukan penduduk asli. Alhamdulillah, saya dapetnya sajadah berwarna hijau. Subhanallah kode banget ya diminta supaya makin rajin beribadah.

Selain permainan KIM, di sekitar panggung juga banyak penjual jajanan seperti gorengan tempura, bakso bakar, jasuke, dll. Sekitar jam setengah 2 pagi, permainan KIM selesai. Ironisnya, sampe jam segitu aja masih banyak anak kecil yang besoknya harus sekolah, termasuk si Jorlan dan Tatan. Namanya gratisan ya, dari anak-anak sampai lansia, semua tergoda.



Penjual popcorn dan permen kapas arum manis di sekitar Balai Nagari
Kertas KIM
Suasana menjelang KIM dimulai
Lingkari angka yang disebutkan dalam nyanyian yaaa

Bakso Bakar

Sakinah dan Martha berfoto bersama hadiah yang saya dapat

Hadiah yang kami dapat: rice cooker, payung, dan sajadah. Alhamdulillah

Rumah Gadang Sungai Baringin (Day 16 – Selasa, 10 Februari 2015)

Overall, hari ini mau mendekam saja di rumah dan nyicil draf blog yang tak kunjung usai. Tapi ternyata ada satu tempat yang termasuk dalam daftar tujuan place-to-go saya yaitu Rumah Gadang Sungai Baringin, yang ternyata terletak tidak jauh dari rumah.

Setelah mengendarai motor selama kurang lebih 15 menit, pukul setengah 5 sore saya sampai di rumah gadang tersebut. Awalnya sempet serem karena di pintu gerbang tertulis tiket masuk rumah gadang, tapi kok sepi amat nggak ada penjaganya. Setelah memberanikan diri buat masuk lebih dalam, ternyata ada beberapa anak sekolah yang juga baru sampai di parkiran. Ikut parkir juga deh.

Sekilas terdapat 2 rumah gadang di sini. Salah satu rumah gadang memang digunakan sebagai rumah tinggal, sementara rumah gadang lainnya dibuka untuk umum. Setelah parkir dan mendekat ke rumah gadang yang dibuka untuk umum, seorang ibu tua menghampiri kami untuk meminta uang tiket masuk. Pada hari biasa, pengunjung dikenakan harga 5 ribu rupiah per orang sementara pada hari libur atau weekend, pengunjung dikenakan harga 10 ribu rupiah per orang. Terdapat harga khusus pula bagi yang ingin mengadakan pre-wedding photo session (lupa harganya brapa).

Selain rumah gadang, di area rumah gadang sungai baringin ini juga terdapat 2 bangunan rangkiang/lumbung (sejenis rumah panggung kecil untuk menyimpan beras/padi) dengan atap gonjong, taman luas yang indah (kalo berdiri di balkon rumah gadang berasa kayak seorang raja lagi melihat taman kerajaan gitu deh), kincir air di dekat gerbang masuk yang saat ini sepertinya sudah tidak berfungsi, serta beberapa gazebo berisi alat-alat tradisional seperti alat penumbuk dan pengolah biji besi.

Meskipun terdapat rumah gadang yang dibuka untuk umum, rumah gadang tersebut tidak selalu bisa kita masuki lho Sob. Kenapa? Karena di hari-hari tertentu, rumah gadang tersebut juga disewakan untuk keperluan pesta, biasanya pesta pernikahan. Beruntung, ketika saya kesana, saya diperbolehkan untuk masuk dan mengambil beberapa foto. Beruntungnya lagi, ternyata hari Kamis esok akan diadakan pesta pernikahan sehingga saya bisa menyaksikan persiapan beberapa ibu yang sedang melipat kain lap berwarna-warni serta beberapa bapak yang sedang memperbaiki atap rumah dan juga memasang lampu dekorasi.
Rumah Gadang yang digunakan sebagai rumah tinggal

Rumah Gadang yang boleh dikunjungi

Keren banget nggak sih rumah gadangnya

Salah satu sudut di rumah gadang

Kamar pengantin dan seorang ibu sedang melipat lap untuk persiapan acara hari Kamis

Pelaminan adat Minang

Uhuy

Rangkiang di sebelah kanan rumah
Alat penumbuk padi

Alat pandai besi

Setengah Bulan di Sumatera Barat (Day 15 – Senin, 9 Februari 2015)

Tak terasa, sudah setengah bulan saya berada di Sumatera Barat. Terlalu indah destinasi dan kegiatan bermalas-malas ria saya di sini.

Setelah sarapan pake nasi padang dendeng balado (hasil dari berjalan kaki ke sekitar simpang tigo Pokan Jumat karna tante belum masak tapi udah keburu dipanggil ke sekolah Jorlan), saya pun bantu tante masak gulai kuning ikan kakap dan pare lado hijau. Cicip cicip sepiring (anggep saja sarapan ronde kedua), lalu lanjut cabuuuut.


Pasar Payakumbuh
Pasar ini bukanlah pasar basah, melainkan pasar barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti kain, plastik, alat dapur, toko jam, toko kacamata, dan lain-lain. Nggak niat mau shopping sih, cuma bantu tante ngambil beberapa jilbab yang udah dipesan sebelumnya.
Dari atas Pasar Payakumbuh

Warung Bakso Ni Dah, Payakumbuh
Setelah dari pasar, saya bungkus tahu sumedang yang cukup terkenal di dekat pasar. Tahu sumedang ini terdiri dari 3 macam tahu, tahu goreng sumedang, tahu tumbuk yang dibentuk bulat, dan juga tahu isi rogut kayak isi risol. Semuanya enak, apalagi pake sambal cair pedas manis.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Lembah Harau yang mungkin akan menyita waktu dan energi, saya request ke Jorgi buat wisata kuliner. HAHAHA. Alhasil doi membawa saya ke bakso langganan doi semasa SMA, Bakso Ni Dah. Dengan 10 ribu rupiah, kita bisa menyantap semangkok bakso yang teksturnya cukup lembuuuuuut dan berbeda dengan bakso pada umumnya. Bukan kayak cilok yang lebih dominan rasa tepungnya. Ini tuh dagingnya berasa, cukup padat, tapi bisa effortless banget gitu makannya.
Bakso Ni Dah! Empuk gilak.

Penampakan warung bakso Ni Dah

Lembah Harau
Setelah melintasi jalinsum (Jalur Lintas Sumatera, atau Jalan Lintas Sumatera ya?), kami memasuki daerah Harau. Setelah melintasi daerah persawahan dan rumah penduduk, sampailah kami di gapura Lembah Harau, yang mengharuskan kami membayar 5 ribu rupiah per orang sebagai tiket masuk. Tapi heran, beberapa motor langsung aja masuk nyelonong tanpa harus bayar. Kata Jorgi sih mereka yang langsung masuk itu adalah penduduk sekitar Lembah Harau. Pelajarannya adalah, next time saya nggak akan keluar2in kamera dan akan pasang wajah dan kostum pribumi sekitar. Gitu banget Bray?
Gerbang menuju Harau dari Jalinsum
Pemandangan di perjalanan menuju Lembah Harau

Ada beberapa lembah dan air terjun yang terkenal. Misalnya saja Lembah Echo yang bisa menimbulkan echo (gaung/gema) ketika kita berteriak di dasar lembah. Ada pula Harau Utama (ini bukan sebutan aslinya), pokoknya air terjun dengan kolam di bawahnya yang banyak digunakan anak-anak berenang.
Lembah Echo

Harau Utama yang ketika saya berkunjung air terjunnya lagi gak begitu deras

Sebelum sampai di tiga harau utama, saya juga sempat mengambil gambar rumah gadang yang memang disewakan untuk para wisatawan. Rumah gadang ini memiliki ukuran berbeda-beda serta dikelilingi sungai, taman, dan lembah.
Rumah Gadang di Lembah Harau
Terdapat tiga air terjun utama di Lembah Harau, yaitu Sarasah Bunta, Sarasah Murai, dan Sarasah Aia Angek. Sebenernya ada 4 sih, yang 1 lagi bernama Sarasah Aia Luluih di belakang parkiran motor. Saya pergi ke semua lokasi air terjun kecuali Sarasah Aia Angek karena lokasinya lumayan jauh sementara hari sudah menjelang petang. Jika Sarasah Bunta memiliki warna kolam yang putih jernih, Sarasah Murai memiliki warna kolam yang kuning kecoklatan sementara Sarasah Aia Luluih berwarna kuning kehijauan.
Sarasah Bunta

Sarasah Murai

Sekitar Sarasah Murai

Sarasah Aia Luluih

Sarasah Aia Luluih

Menaiki batu besar di kolam Sarasah Aia Luluih

Di sekitar air terjun banyak warung-warung penjual mie instan dan karupuak mie, souvenir, kaos, serta tanaman hias. Terdapat 1 tanaman hias yang menurut saya unik karena ditumbuhi rambut-rambut panjang berwarna coklat sehingga lebih mirip kucing atau anjing dibanding tumbuhan. HAHAHA..
Karupuak Mie

Penjual souvenir

Tanaman Paku yang berambut


Kopmil Ijo, Payakumbuh
Sesampainya kembali ke Kota Payakumbuh, Jorgi mengajak saya nongkrong di salah satu tempat paling hits dan gaul se-Payakumbuh. Kopmil Ijo namanya. Menu yang dijual disini adalah berbagai varian kopi dan coklat dengan mixing cadburry, oreo, atau cincau yang bisa dipesan dingin atau panas. Juga terdapat makanan ringan seperti kentang goreng, roti bakar, nugget atau kebab.
Minuman di Kopmil Ijo

Sate In-Bur, Danguang-Danguang
Sejak pertama kali cobain sate In-Bur Danguang-Danguang di hari pertama tiba di rumah Jorgi, saya udah berjanji pasti bakal makan nih sate lagi. Setelah belasan sate padang dicoba, sate in-bur Danguang-Danguang tetap berpredikat sebagai sate favorit saya. Balik lagi, saya lebih suka makan daging sapi yang kalo digigit nggak nyangkut di gigi dan sate in-bur inilah jawabannya. Selain karena emang rempah-rempah kuningnya berasa banget ya. Lagi, saya lebih suka makan satenya tanpa kuah. Jadi kuahnya dimakan pake lontongnya dulu, terus kita ngemil sate dagingnya.

Balik-balik ke rumah bawain oleh-oleh pisang coklat karamel tapi ternyataaaa eh ternyata, di rumah ada Razak dan Naifa yang juga bawain oleh-oleh serupa. HAHAHA