Kamis, 22 Januari 2015

Tanggul Goes to Klaten & Jogja

Jumat, 16 Januari 2015

Setelah sekian lama hanya sekedar wacana, akhirnya Jumat 16 Januari 2015 lalu Tanggul (sebuah grup ala-ala beranggotakan Saya, Nanda Resmi, Nisang Ayu, dan Pinandito) liburan keluar kota. Pernah sih sebelumnya berenang bareng-bareng di Cikarang. Nah, back to the topic, hal ini bisa terlaksana tidak terlepas dari undangan pernikahan Mbak Astro (Yuliana). Terimakasih Mbak!
Kami pun telah memesan tiket KA Progo (untuk keberangkatan) dan KA Bengawan (untuk kepulangan) jauh-jauh hari, bahkan jauh sebelum Mbak Astro dan Hans (yang kini suaminya) bertemu dan memadu kasih. YAKALI. Lupa sih berapa harga pasti tiketnya, tapi masih sekitaran 100ribuan sekali jalan. Cukup terjangkau!

Pukul 20:00WIB Saya, Dito, dan Nanda berkumpul di Kos Nesya (yang juga akan berangkat bersama kami) untuk naik taksi bersama ke Stasiun Pasar Senen. Sak wasangka! (Yaolo tua amat gue pake istilah begituan) Hujan deras pun turun beberapa menit sebelum kita berangkat. Alhasil pukul 21:00WIB kami menerobos hujan dengan paying masing-masing. Ooops, nggak masing-masing sih. Kak Nanda yang baik hati mau bertukar payung dengan saya yang hanyalah remah-remah abon expired ini. Mungkin ini juga sindiran dari Nanda kalo, “Sadar dong lo Bri, badan gede tapi payung seuprik!”. Sekitar setengah 10 kita sampe di stasiun Pasar Senen dan tepat pukul 22:50WIB kami bersama kereta pun meninggalkan stasiun. See you, Jak!

Di dalam gerbong no 2 lah kami berada. Meski begitu, kak Dito agaknya kurang beruntung. Dia terpisah dari gerombolan Tanggul. Meskipun penumpang di kereta cukup penuh, kami semua nggak kegerahan karena AC disetel cukup dingin, bak Hogwarts Express.

Sabtu, 17 Januari 2015

Delapan jam perjalanan kami lalui. Setelah sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, kami semua bergegas ke kamar mandi umum di depan stasiun untuk bersiap menuju pemberkatan pernikahan Mbak Astro & Hans. Perjalanan dari Stasiun Lempuyangan ke lokasi pemberkatan (Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Wedi) kami tempuh selama kurang lebih 1 jam dengan menggunakan mobil.
Suasana pemberkatan begitu cool. Kayak di filem filem gitu. Saya sih, lebih asik ambil momen sana-sini dengan menggunakan kamera hape.

Selesai pemberkatan, kami menuju ke salah satu rumah makan hits di daerah Klaten (atau Jogja). Rumah Makan Bu Mayar namanya. Menu hits dari rumah makan ini adalah ayam goreng dan sayur urapnya. Endz! Fotonya seadanya ya Soub keburu kalap!

Setelah makan, saya ke rumah Kak Dito sementara kak Nisang ke rumah Kak Nanda (keduanya di daerah Klaten) untuk beristirahat dan bersiap-siap menuju resepsi pernikahan Mbak Astro dan Hans di Jogja. Jam setengah 4 sore, saya dan Dito menjemput Nanda, Nisang, Riris (adik Kak Nanda), dan princess Nesya untuk bersama-sama menuju Omah Dhuwur, Jogja, lokasi resepsi.

Sejauh ingatan saya berkelana, ini adalah kali pertama saya menghadiri resepsi pernikahan outdoor (outdoor beneran ya, bukan yang ala-ala di kampung-kampung). Sisa senja, gerimis manja, dan dekorasi resepsi pernikahan yang dirancang sedemikian rupa menimbulkan decak kagum luar biasa pada mempelai dan wedding organizer nya! Belum lagi menu makanan yang luar biasa enaknya dan nggak pake antri kayak kondangan di Jakarta pada umumnya. Para tamu juga dapat bergerak bebas dan tidak berdesakan karena sejauh mata memandang, tamu undangan yang hadir nggak sampe 300 orang. Kemeriahan memuncak saat pelemparan bunga oleh mempelai. Nanda termasuk salah satu orang yang mendapatkan bouquet bunga, yang ternyata palsu. Mungkin Kak Nanda harus lebih bersabar dalam menanti orang yang tepat. Mungkin 2061. Eh, 2016.. Waktu sudah tengah malam saat kami sampai ke tempat tinggal masing-masing (saya sih nebeng di rumah Kak Dito). Tepar.

Minggu, 18 Januari 2015

Saya dan Dito berencana berangkat setengah enam pagi menjemput Nisang dan Nanda untuk sarapan bareng. Namun apadaya, karena kebaikan dan keramah-tamahan keluarga Dito, mereka mempersilakan saya dan Dito untuk sarapan terlebih dahulu. Ada aneka rebusan (jagung, ubi, pisang), ada buah-buahan, ada soto beserta ayam goreng, telor, tahu, dan tempe goreng, serta kerupuk dan sambal kecap. Alhamdulillah, LAHAP.

Setelah berkemas, sekitar setengah 7 kami menjemput Nanda dan Nisang dan tujuan pertama kami adalah membeli oleh-oleh aneka kripik di dekat rumah Kak Nanda. Saya pun membeli kripik ceker dan belut, hihihi. Lalu, kami juga mampir ke stasiun Klaten untuk mencetak tiket pulang nanti sore.
Kurang lebih pukul setengah 9 kami sampai ke kawasan wisata Candi Prambanan. Banyak banget spot-spot yang keren buat fotografi, termasuk buat narsis-narsisan. Kala itu kami juga berbarengan dengan rombongan study tour siswa-siswi SMP, membuat kami harus sedikit bersabar jika ingin menangkap gambar Candi Prambanan dengan ‘bersih’.

Pukul setengah 11 kami menuju destinasi selanjutnya, yaitu berbelanja oleh-oleh di Bakpia Mutiara dan makan siang di Sop Ayam Pak Min. Bakpia Mutiara ini emang beda ya sama bakpia yang biasa saya makan (bakpia 25 atau 75). Bakpia Mutiara tuh lebih lembut dan isinya agak sedikit kenyal. Enak bangeeeeeeeet. Di sop ayam Pak Min, saya pesen sop tempong (sebutan untuk paha atas) dan sop ceker. Sorry not sorry. KHILAF.

Setelah itu, kami pergi ke Malioboro dan Pasar Bringharjo untuk membeli batik. Di sini saya nggak banyak foto-foto lagi sih karna udah capek dan gerah. Setelah itu, Kak Dito nganterin kita ke Stasiun Lempuyangan deh sementara doi balik lagi ke rumah karena baru akan balik ke Jakarta 27 Januari mendatang.

Beginilah trip singkat kami ke Klaten dan Yogyakarta. Terimakasih banyak buat Tanggul, Princess, keluarga Mbak Astro dan Hans, keluarga Kak Dito dan Kak Nanda, dan semua warga Klaten Bersinar dan Jogja Berhati Nyaman.

Rabu, 14 Januari 2015

Mini Trip Jakarta "Nasional"

Susu murniii, nasionaaal!
Kenalan dulu yuk lah. Sabtu, 10 Januari 2014 lalu, saya, Angger, Om Mario, Om Rambo, Advina, dan Melinda melakukan trip singkat bertema Nasional. Kenapa nasional? Karena tiga tempat yang kami kunjungi untuk ber-photowalk ria adalah Galeri Nasional, Monumen Nasional (Monas), dan Museum Nasional. Terkecuali Monas, ini adalah kali pertama saya berkunjung kesana.

Setelah berkumpul di 7-Eleven Stasiun Gambir pukul 10+++ WIB, sarapan, lalala kenalan yeyeye, destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Galeri Nasional, tinggal leb a.k.a. nyebrang dari Stasiun Gambir. Sebelumnya, saya nggak begitu tahu Galeri Nasional itu berisi pameran apa, tapi Om Mario menjelaskan kalau tema Galeri Nasional itu berubah-ubah sesuai sedang ada kerja sama kesenian dengan siapa atau negara mana. Nah, kebetulan tanggal 9-20 Januari 2015 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia terdapat pameran Empty Fullness: Materialitas dan Spiritualitas dalam Seni Modern Korea yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Korean Cultural Center Indonesia dan Korea Arts Management Service. Minimalis-minimalis seru gitu Soub! Eits, masuknya gratis dan cuma perlu isi buku tamu.

Sekitar jam setengah 1, kita cabut dari Galeri Nasional menuju destinasi selanjutnya, Museum Nasional atau juga dikenal dengan nama Museum Gajah. Nah, karena kita memutuskan buat pergi kesana dengan berjalan kaki, otomatis kita akan melewati area Monas yang kala itu sangatlah terik sekali. Panas sih iya, tapi positifnya adalah beberapa momen dapat tertangkap kamera dengan baik karena tidak berkekurangan cahaya.

Kalo di Museum Nasional atau Museum Gajah ini kita harus bayar 5 ribu rupiah sekali masuk. Tapi itu semua sepadan dengan luasnya museum dan kekayaan isinya Soub. Ada beberapa bagian yang nggak kita masukin sih. Tapi sejauh mata memandang, di sini kita bisa lihat koleksi patung, batik, tulang-belulang jaman prasejarah, dan benda-benda tradisional Indonesia dan mancanegara mulai dari alat transportasi, prasasti, pakaian, keramik, dan emas.

Keluar-keluar udah jam 2 lebih Soub. Laper banget! Alhasil kita berniat buat makan siang di daerah Sabang dan untuk pertama kalinya lagi, saya dan teman-teman naik City Tour Bus yang tingkat ituuu. Bagian atasnya langsung penuh Bro, alay gitu deh kita. Menjelang maghrib, saya dan Om Mario mampir lagi ke Monas buat foto-foto sebelum akhirnya pulang. Lumayan lah sekalian olahraga. Dapet 12 ribu langkah! Huhah!

Di Ujung Lorong

The Strong Light

The Blank Spaces

The Good Goddess

Move It

Museum Gajah

Melinda & Advina

Debus di Monas

Follow Your Path

Langit Monas
Clockwise: (Kaos 85: Brian aka Me!), Om Mario, Advina, Angger, Om Rambo, Melinda

Minggu, 11 Januari 2015

Mendadak (Kota) Tua

Hari Kamis kemaren saya secara mendadak pengen pergi ke Kota Tua. Alasan pertama karena lagi lowong, alasan kedua lagi lowong, dan alasan ketiga karna ketagihan pengen photowalk lagi kayak di Baduy. Pengen membuktikan kalo hasil foto dari smartphone (Galaxy S4) nggak kalah sama kamera VGA! Hyaihyalah!

Setelah mondar-mandir di tengah kesejukan, kesendirian, serta kebingungan mikirin entar mau jajan apa, akhirnya saya memutuskan berjalan-jalan menyusuri lorong Kota Tua. Setelah beberapa menit berlalu, hati pun tertambat pada penjual pecel sayur dan gorengan. Enak dan murah. Dengan membeli pecel sayur, kan kita juga turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan perekonomian mikro Indonesia. Halu.

Mau balik pulang, baru sebentar banget di Kota Tua. Mau lanjut muter-muter, ya gitu-gitu doang. Akhirnya saya iseng masuk ke Museum Wayang. Dengan tarif 5 ribu rupiah untuk umum, saya pun masuk biar agak lamaan dikit di Kota Tua sekaligus emang karena belum pernah masuk ke museum ini.

Museum Wayang begitu mencekam. Dengan suasana remang-remang, nuansa tempo dulu yang kental, furnitur kayu yang hampir lapuk, tangga kayu yang jika diinjak berbunyi 'kreeek kreeeek', jumlah pengunjung yang sedikit sekali (sekitar 10 orang, terpencar-pencar, berpasangan, kecuali penulis blog ini), serta aura boneka yang seakan hidup, membuat semakin saya memasuki ruangan museum lebih dalam, semakin saya ingin keluar. Apalagi waktu liat boneka-boneka rusia cem Annabelle dan boneka-boneka yang biasa dipakai buat upacara kematian.

Sekian cerita singkat saya jalan-jalan di Kota Tua. Cekidot foto-foto hasil photowalk, follow instagram daku @brianardianto juga boleh. Hehehe..

Museum Fatahillah Tampak Depan
Pohon Kering

Lorong Museum Wayang

Tunggu Bang, Aku kan Bunting

I Wish You Were Here

Sabtu, 10 Januari 2015

11 Explore Baduy

Happy New Year!

Nggak berasa, udah punya blog sejak tahun 2008 tapi bener-bener jarang banget diisi. Anaknya lebih akrab sama twitter, path, dan instagram sih, lebih suka nulis yang pendek-pendek, yang kurang butuh komitmen gitu *eh. Tapi berhubung salah satu resolusi buat 2015 adalah menulis blog, here I go.

Setelah di tahun 2014 bergabung dengan komunitas iphonesia, di akhir tahun daku pun diajak oleh salah satu master iphonesia Bang Fajar a.k.a. Japra (@thejapra) buat trip murah meriah ke Baduy. Sebelumnya emang pernah beberapa kali browsing tentang trip kesana tapi nggak jadi-jadi mulu karena nggak ada temen. Tanpa pikir panjang, daku iyain dong.

Jumat, 2 Januari 2015
Kami ber-11 yang terdiri dari daku, Bang Japra, Bang Mario, Gawi, Om Andi, Bang Wirgum, Bang Rambo, Bang Baba, Angger, dan duo Putri (Putri Item dan Putri Mulya) berkumpul di Stasiun Tanah Abang sekitar jam 7 pagi. Kereta Rangkas Jaya yang menjadi tunggangan kami berangkat pada pukul sekitar 8 pagi.

KA Rangkas Jaya
Sampai di Stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot menuju Terminal Aweh. Perjalanan dari stasiun menuju Terminal Aweh kami tempuh selama kurang lebih 15 menit dengan ongkos 4 ribu rupiah. Dari Terminal Aweh, kami transit dengan naik angkot macam minibus menuju Terminal Ciboleger. Perjalanan ini kami temouh selama 2 jam dengan ongkos 25 ribu rupiah. Angkot menuju Ciboleger ini tidak akan jalan jikalau penumpang kurang dari 20 orang. Gerahnya terasa banget Soub, di tengah perjalanan pun beberapa penumpang termasuk Gawi terpaksa pindah ke atap angkot karena ada beberapa penumpang wanita yang naik.

Suasana di Angkot Minibus :3
Sesampainya di Terminal Ciboleger, kami bertemu Kang Saidam; penduduk suku Baduy Luar, tour guide kami, sekaligus pemilik rumah yang kami singgahi selama sehari semalam ke depan. Kami juga menyempatkan diri ke Alfamart di Terminal Ciboleger buat jajan-jajan asik dan membeli bahan makanan. 
Terminal Ciboleger
Setelah makan di perbatasan Desa Ciboleger dan Kampung Baduy Luar, akhirnya kami berteduh di rumah Kang Saidam sekaligus meletakkan barang bawaan. Nekad menerobos hujan setelah menunggu hujan yang galau kadang gerimis kadang deres selama 2 jam, kami pun melakukan trekking ke Danau Dangdang Ageng. Melalui tanjakan dan turunan berbatu penuh lumpur yang bikin otot seluruh tubuh emez emez lemez.

Group Selfie di Danau Dangdang Ageng
Sabtu, 3 Januari 2015
Keesokan harinya, setelah menyantap nasi goreng asap (karena cara masaknya masih pakai kayu bakar) buatan istri Kang Saidam, kami berkunjung ke kampung tetangga, menempuh jarak yang lebih sadis, menuju Kampung Gajebo. Gak jelas bo ngos-ngosannya. Yang jelas bo, kearifan lokal penduduknya lebih beragam dari kampung-kampung Baduy Luar sekitarnya.

Perkampungan Baduy Luar
Ki Sinah. 99 Tahun, Petua Baduy Luar yang Masih Nampak Sehat :)
Yang tak kalah membius adalah jembatan bambu di ujung kampung Gajeboh. Sayang, kami tidak melanjutkan perjalanan setelah jembatan bambu tersebut karena dikejar waktu. Tsailah,

Jembatan Bambu Kampung Gajeboh
Pukul 12.30 kami berpamitan karena harus mengejar kereta menuju Tanah Abang pada pukul 14.30. Thank you so much Bang Japra dan teman-teman iphonesia buat short & low budget trip di awal tahun ini. Mau lagi! :D
Ki-Ka: Wirgum, Kang Saidam, Putri Mulya, Rambo, Mario, Andi, Brian (me!), Putri Item, Bang Japra, Angger, Gawi, Baba

Minggu, 02 Juni 2013

Let's Go (& Eat) Green!



Selalu ada cara buat menjaga bumi kita tercinta, dari hal-hal kecil dan diri sendiri misalnya. Selama kita mau berdoa, punya niat dan komitmen, juga nggak omong doang, semua hal adalah mungkin.

Sudah lama, lingkungan menjadi issue yang perlu mendapat perhatian. Tapi, perubahan iklim dan cuaca yang semakin ekstrim menjadikan go green sebagai tanggung jawab kita semua. Tanpa terkecuali!

Ijo! Ijo! Ijo! Nah, selain berkaitan dengan lingkungan, warna hijau juga dikenal sebagai warna yang mampu menyegarkan mata dan menjernihkan pikiran. Nggak heran, para dokter misalnya, seringkali mengenakan seragam berwarna hijau saat melakukan operasi. Hal ini dilakukan agar mereka tetap fokus dan berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat detail, apalagi jika menyangkut nyawa seseorang. Kita pun disarankan memandang sesuatu, mungkin tanaman atau dinding berwarna hijau setelah beraktivitas di depan layar komputer atau gadget.

Hmmm. Seharian ngeblog, ngetweet, ngerjain tugas, dan nge-games di laptop. Ujung-ujung jari mulai menari di permukaan dahi, mata merem melek saking lelahnya, butuh yang ijo-ijo biar seger lagi nih! Tapi, seluruh dinding kamar kost warnanya putih. Lagian, udah nggak ada tenaga buat jalan ke area penuh pepohonan saking lapernya.

Hap! Ekor mata gue tiba-tiba melirik sebongkah harta karun di rak cemilan. Indomie goreng cabe ijo yang tinggal sebungkus itu benar-benar menarik perhatian! Setelah memandang bungkus berwarna ijo nya cukup lama, akhirnya gue punya sedikit tenaga dan kesegaran buat masak mi goreng cabe ijo. Thank indomie cabe ijo, you saved my life, that night!

[sumber foto kemasan indomie goreng cabe ijo: website indomie]

Pas tau indomie lagi bikin kompetisi kejar asli cabe ijo, tanpa pikir panjang gue langsung meluncur ke spot terdekat dari kost, Roti Bakar Edy cabang GBK Senayan. Tanpa campuran apa-apa aja udah enak, apalagi kalo dipakein telor dan kornet? Jangan tanya gimana enaknya!

Penampakan Indomie Goreng Cabe Ijo - RBE Senayan Sebelum Diaduk



Capek Kelar Maen Basket? Indomie Goreng Cabe Ijo Aja!
Seger cabe ijo aslinya nonjok-nonjok di lidah. Gurih mie dan bumbu nya, bikin merem melek. Potongan sawi rebus, kriuk-kriuk gimanaaa gitu. Lembut telur rebus dan sensasi kornet sapi makin bikin gue terbang keenakan. One of heaven food on earth!



Beli di warung, enak. Bikin sendiri, juga enak.

Oh iya, berikut gue mau share sejarah munculnya indomie di Indonesia.
Berdasarkan informasi yang gue dapat dari website indomie, mie instan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1969. Awalnya sih banyak yang meragukan mie instan bisa jadi salah satu makanan pokok. Tapi karena harga yang terjangkau, gampang dibikin dan juga tahan lama, indomie akhirnya berkembang pesat. Produk indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah indomie kuah rasa kaldu ayam. Pada tahun 1982, diluncurkan indomie kuah rasa kari ayam yang mengakibatkan penjualan indomie meningkat tajam. Setahun kemudian, pada 1983, Indomie meluncurkan varian baru yaitu indomie mi goreng yang digemari hingga kini.

Terbaru, 30 April 2013 lalu indomie meluncurkan indomie goreng cabe ijo! Munculnya varian baru indomie yang menggunakan bahan dasar cabe ijo asli ini merupakan bukti bahwa indomie berkomitmen untuk terus melakukan inovasi demi terciptanya kepuasan pelanggan.




Indomie, seleraku.

Blog aku, seleramu.

Jangan lupa like fanpage indomie dan follow twitter @indomielovers ya!