Kamis, 19 Februari 2015

The Last Days (Day 19&20, Jumat dan Sabtu, 13-14 Februari 2015)

Sedih banget karena udah harus balik ke Jakarta.

Setelah sholat Jumat, saya dan Jorgi keliling kota cari oleh-oleh, termasuk beli kaos berbahasa minang di toko kaos Tangkelek. Rendang daging, rendang telur, rendang sayur, kripik singkong balado, kripik singkong jagung, beras randang, kaos minang, semuanya sudah dishikat.

Malam harinya, kami berpamitan ke beberapa saudara. Sebuah kebiasaan yang nggak pernah saya lakukan di Malang kalau harus balik ke Jakarta. Agak peer sih sebenarnya. Tapi like any other things, semua hal pasti ada sisi positifnya. Jadinya sillaturahim jalan terus, makan jajanan di tiap rumah juga jalan terus, duit pesangon (buat si Jorgi doang sih) juga jalan terus. HAHAHA

Malem harinya banget disempetin ke Danguang-Danguang buat makan sate In-Bur yang super lezat itu sekali lagi, sebelum akhirnya packing sambil sedih-sedihan homesick. Gimana nggak homesick Sob kalo 20 hari tinggal di suatu tempat yang luar biasa menyenangkannya. Udaranya adem, orang-orangnya ramah banget, makanannya enak dan murah, tempat wisatanya banyak, alamnya masih asri. Hiks, ini lagi ngetik draf di Jakarta aja masih nggak percaya udah nggak di Payakumbuh.

Pada hari Sabtunya, pukul setengah 8 pagi, tante mengantarkan kami ke Didi Travel di Payakumbuh buat selanjutnya ke Bandara Minangkabau di Padang. See ya again, super soooooon, Sumatera Barat! :D

Memasak Rendang Daging! (Day 18 – Kamis, 12 Februari 2015)

Hari ini akhirnya kita mendapat kepastian kapan boleh balik ke Jakarta.

Siang hari, setelah tante ngumpul acara PKK, kita pergi ke Kota Payakumbuh buat bayar tiket pesawat sekaligus belanja ke Pasar Ibuh bahan-bahan buat bikin rendang daging!

Sore harinya, saya bantu tante buat bikin rendang. Buat 2,5 kg daging sapi aja, dibutuhin santan kental dari 11 buah kelapa Sob. Sebelas! Gila nggak tuh. Dari jam 6 sore sampai 9 malam saya bergantian bersama Jorgi, tante, dan yang lainnya mengaduk santan berisi bumbu dan daging sampai menjadi rendang basah atau rendang kalio. Baru keesokan paginya dilanjutin ngaduk lagi sekitar 2 jam buat jadi rendang kering yang sesungguhnya.

Berbelanja daging di Pasar Ibuh Payakumbuh
Lado Ijo
Saya memasak rendang dengan menggunakan kayu bakar
Bawang Merah dan Bawang Putih
Mengaduk kuali besar part 1
Mengaduk kuali besar part 2
Mengaduk kuali besar part 3 (memasukkan daging)
Mengaduk kuali besar part 4 (minyak dari santan sudah mulai keluar)
Rendangnya matang!!!

Bermain KIM (Day 17 – Rabu, 11 Februari 2015)

Hari ini termasuk hari yang dinanti-nantikan warga Taeh Baruah nih Sob. Karena, BAMUS alias Badan Musyawarah yang akan bertugas sampai 2020 nanti telah terbentuk dan akan diadakan syukuran pelantikan nanti malam.

Sebelumnya, sore harinya saya muter-muter kampung aja pake motor. Niatnya pengen ke waduk di daerah Piobang. Tapi apadaya salah belok dan nggak nanya-nanya warga sekitar. Ujung-ujungnya malah nembus rumah gadang sungai baringin yang kita datengin kemaren. Daripada langsung balik ke rumah dengan tangan (dan perut) hampa, mari kita keluarkan jiwa-jiwa ngidam. Emang sih, kalau di Sumatera Barat ya enaknya makan masakan sini, tapi udah 2 minggu lebih kan Sob makan santan santan forever, pengen gitu yang jawa jawa dikit. Daaaan, setelah sempat kelewatan, akhirnya daku putar balik ke warung sate, sate madura! Disini hampir tiap hari (bisa sehari 2-3 kali) makan sate sih, tapi satenya kan sate padang (kadang sate daging, sate ayam, sate ceker, sampe buntut). Dengan lahapnya daku menyantap sate ayam madura yang manis, asin, dan pedas ini. Semuanya dishikaaat sampe lupa difoto dulu.

Nah sekitar jam 9 malam, kami semua keluar dari rumah menuju Balai Desa (atau Balai Nagari) bersama dengan ribuan orang lainnya. Seperti yang sudah sempat saya bahas sebelumnya, malam ini kami akan merayakan peresmian pembentukan BAMUS (Badan Musyawarah). Tapi kali ini acaranya bukan peresmian biasa Sob. Terdapat sebuah permainan berhadiah yang bernama KIM, bukan Kim Jong Un atau Kim Kardashian yaaa (krik).

Begini permainannya.

  1. Setiap orang akan mendapatkan satu set kertas berisi 5 lembar kertas dengan warna yang berbeda. Tiap lembar kertas berisikan 5 angka mendatar dan 6 angka menurun, jadi totalnya ada 30 angka acak dari 1 hingga 90.
  2. Abaikan saja kotak-kotak kosong yang tidak ada angkanya.
  3. Nantinya, seorang penyanyi melayu di panggung akan bernyanyi sembari mengocok kaleng berisi angka dari 1 sampai 90.
  4. Di ujung-ujung syair nyanyian, penyanyi akan menyebutkan angka tersentu (bisa satuan, belasan, atau puluhan tergantung dari hasil kocokan kaleng) dalam bahasa Minang.
  5. Nah, jika angka yang disebutkan oleh penyanyi adalah angka yang terdapat di kertas kita, kita bisa melingkari angka tersebut.
  6. Tugas kita adalah, segera maju ke panggung untuk mendapatkan hadiah jika kertas yang kita pegang sudah menciptakan deret horizontal (mendatar) dengan keseluruhan angka mendatar terlingkar.
  7. Jika jumlah hadiah dalam 1 babak sudah habis, kita akan diminta untuk berganti ke lembar kertas berikutnya untuk memperebutkan hadiah dengan nilai yang lebih tinggi, misalnya dari lembar awal berwarna hijau beralih ke lembar berikutnya berwarna pink.
  8. Biasanya, di 2 lembar terakhir (lembar biru dan putih), permainan akan semakin seru dan menantang karena kita harus mengumpulkan lebih dari 1 deret horizontal. Bahkan, untuk hadiah terakhir (yang pada malam itu adalah sepaker dengan ukuran jumbo), kita diminta mengumpulkan 6 deret horizontal which is semua angka di kertas putih harus terlingkar.
  9. Dalam permainan KIM, kita tidak akan bisa curang dengan melingkari angka yang belum disebutkan karena setiap angka yang disebutkan akan ditampilkan pada layar infokus di panggung.
  10. Disebut COKI untuk keadaan dimana kondisi deret horizontal kita kurang 1 angka lagi. Di lembar kedua, saya COKI nih. Tinggal ngarep angka 85 disebut buat dapet hadiah. Dannnn, ketika angka 85 disebut, adrenalinnya sama kayak kalo naik kora-kora di Dufan Sob. Amazing. Saya langsung nyobek kertas pink dan ngasih ke Martha (sepupu Jorgi) buat lari ke panggung, ngecek apakah rangkaian angka saya benar dan layak mendapat hadiah. Kenapa nyuruh Martha? Selain karena doi badannya kecil dan bisa sat set sat set nyelip ribuan orang, entar warga disana bisa kisruh kalo yang dapet hadiah bukan penduduk asli. Alhamdulillah, saya dapetnya sajadah berwarna hijau. Subhanallah kode banget ya diminta supaya makin rajin beribadah.

Selain permainan KIM, di sekitar panggung juga banyak penjual jajanan seperti gorengan tempura, bakso bakar, jasuke, dll. Sekitar jam setengah 2 pagi, permainan KIM selesai. Ironisnya, sampe jam segitu aja masih banyak anak kecil yang besoknya harus sekolah, termasuk si Jorlan dan Tatan. Namanya gratisan ya, dari anak-anak sampai lansia, semua tergoda.



Penjual popcorn dan permen kapas arum manis di sekitar Balai Nagari
Kertas KIM
Suasana menjelang KIM dimulai
Lingkari angka yang disebutkan dalam nyanyian yaaa

Bakso Bakar

Sakinah dan Martha berfoto bersama hadiah yang saya dapat

Hadiah yang kami dapat: rice cooker, payung, dan sajadah. Alhamdulillah

Rumah Gadang Sungai Baringin (Day 16 – Selasa, 10 Februari 2015)

Overall, hari ini mau mendekam saja di rumah dan nyicil draf blog yang tak kunjung usai. Tapi ternyata ada satu tempat yang termasuk dalam daftar tujuan place-to-go saya yaitu Rumah Gadang Sungai Baringin, yang ternyata terletak tidak jauh dari rumah.

Setelah mengendarai motor selama kurang lebih 15 menit, pukul setengah 5 sore saya sampai di rumah gadang tersebut. Awalnya sempet serem karena di pintu gerbang tertulis tiket masuk rumah gadang, tapi kok sepi amat nggak ada penjaganya. Setelah memberanikan diri buat masuk lebih dalam, ternyata ada beberapa anak sekolah yang juga baru sampai di parkiran. Ikut parkir juga deh.

Sekilas terdapat 2 rumah gadang di sini. Salah satu rumah gadang memang digunakan sebagai rumah tinggal, sementara rumah gadang lainnya dibuka untuk umum. Setelah parkir dan mendekat ke rumah gadang yang dibuka untuk umum, seorang ibu tua menghampiri kami untuk meminta uang tiket masuk. Pada hari biasa, pengunjung dikenakan harga 5 ribu rupiah per orang sementara pada hari libur atau weekend, pengunjung dikenakan harga 10 ribu rupiah per orang. Terdapat harga khusus pula bagi yang ingin mengadakan pre-wedding photo session (lupa harganya brapa).

Selain rumah gadang, di area rumah gadang sungai baringin ini juga terdapat 2 bangunan rangkiang/lumbung (sejenis rumah panggung kecil untuk menyimpan beras/padi) dengan atap gonjong, taman luas yang indah (kalo berdiri di balkon rumah gadang berasa kayak seorang raja lagi melihat taman kerajaan gitu deh), kincir air di dekat gerbang masuk yang saat ini sepertinya sudah tidak berfungsi, serta beberapa gazebo berisi alat-alat tradisional seperti alat penumbuk dan pengolah biji besi.

Meskipun terdapat rumah gadang yang dibuka untuk umum, rumah gadang tersebut tidak selalu bisa kita masuki lho Sob. Kenapa? Karena di hari-hari tertentu, rumah gadang tersebut juga disewakan untuk keperluan pesta, biasanya pesta pernikahan. Beruntung, ketika saya kesana, saya diperbolehkan untuk masuk dan mengambil beberapa foto. Beruntungnya lagi, ternyata hari Kamis esok akan diadakan pesta pernikahan sehingga saya bisa menyaksikan persiapan beberapa ibu yang sedang melipat kain lap berwarna-warni serta beberapa bapak yang sedang memperbaiki atap rumah dan juga memasang lampu dekorasi.
Rumah Gadang yang digunakan sebagai rumah tinggal

Rumah Gadang yang boleh dikunjungi

Keren banget nggak sih rumah gadangnya

Salah satu sudut di rumah gadang

Kamar pengantin dan seorang ibu sedang melipat lap untuk persiapan acara hari Kamis

Pelaminan adat Minang

Uhuy

Rangkiang di sebelah kanan rumah
Alat penumbuk padi

Alat pandai besi

Setengah Bulan di Sumatera Barat (Day 15 – Senin, 9 Februari 2015)

Tak terasa, sudah setengah bulan saya berada di Sumatera Barat. Terlalu indah destinasi dan kegiatan bermalas-malas ria saya di sini.

Setelah sarapan pake nasi padang dendeng balado (hasil dari berjalan kaki ke sekitar simpang tigo Pokan Jumat karna tante belum masak tapi udah keburu dipanggil ke sekolah Jorlan), saya pun bantu tante masak gulai kuning ikan kakap dan pare lado hijau. Cicip cicip sepiring (anggep saja sarapan ronde kedua), lalu lanjut cabuuuut.


Pasar Payakumbuh
Pasar ini bukanlah pasar basah, melainkan pasar barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti kain, plastik, alat dapur, toko jam, toko kacamata, dan lain-lain. Nggak niat mau shopping sih, cuma bantu tante ngambil beberapa jilbab yang udah dipesan sebelumnya.
Dari atas Pasar Payakumbuh

Warung Bakso Ni Dah, Payakumbuh
Setelah dari pasar, saya bungkus tahu sumedang yang cukup terkenal di dekat pasar. Tahu sumedang ini terdiri dari 3 macam tahu, tahu goreng sumedang, tahu tumbuk yang dibentuk bulat, dan juga tahu isi rogut kayak isi risol. Semuanya enak, apalagi pake sambal cair pedas manis.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Lembah Harau yang mungkin akan menyita waktu dan energi, saya request ke Jorgi buat wisata kuliner. HAHAHA. Alhasil doi membawa saya ke bakso langganan doi semasa SMA, Bakso Ni Dah. Dengan 10 ribu rupiah, kita bisa menyantap semangkok bakso yang teksturnya cukup lembuuuuuut dan berbeda dengan bakso pada umumnya. Bukan kayak cilok yang lebih dominan rasa tepungnya. Ini tuh dagingnya berasa, cukup padat, tapi bisa effortless banget gitu makannya.
Bakso Ni Dah! Empuk gilak.

Penampakan warung bakso Ni Dah

Lembah Harau
Setelah melintasi jalinsum (Jalur Lintas Sumatera, atau Jalan Lintas Sumatera ya?), kami memasuki daerah Harau. Setelah melintasi daerah persawahan dan rumah penduduk, sampailah kami di gapura Lembah Harau, yang mengharuskan kami membayar 5 ribu rupiah per orang sebagai tiket masuk. Tapi heran, beberapa motor langsung aja masuk nyelonong tanpa harus bayar. Kata Jorgi sih mereka yang langsung masuk itu adalah penduduk sekitar Lembah Harau. Pelajarannya adalah, next time saya nggak akan keluar2in kamera dan akan pasang wajah dan kostum pribumi sekitar. Gitu banget Bray?
Gerbang menuju Harau dari Jalinsum
Pemandangan di perjalanan menuju Lembah Harau

Ada beberapa lembah dan air terjun yang terkenal. Misalnya saja Lembah Echo yang bisa menimbulkan echo (gaung/gema) ketika kita berteriak di dasar lembah. Ada pula Harau Utama (ini bukan sebutan aslinya), pokoknya air terjun dengan kolam di bawahnya yang banyak digunakan anak-anak berenang.
Lembah Echo

Harau Utama yang ketika saya berkunjung air terjunnya lagi gak begitu deras

Sebelum sampai di tiga harau utama, saya juga sempat mengambil gambar rumah gadang yang memang disewakan untuk para wisatawan. Rumah gadang ini memiliki ukuran berbeda-beda serta dikelilingi sungai, taman, dan lembah.
Rumah Gadang di Lembah Harau
Terdapat tiga air terjun utama di Lembah Harau, yaitu Sarasah Bunta, Sarasah Murai, dan Sarasah Aia Angek. Sebenernya ada 4 sih, yang 1 lagi bernama Sarasah Aia Luluih di belakang parkiran motor. Saya pergi ke semua lokasi air terjun kecuali Sarasah Aia Angek karena lokasinya lumayan jauh sementara hari sudah menjelang petang. Jika Sarasah Bunta memiliki warna kolam yang putih jernih, Sarasah Murai memiliki warna kolam yang kuning kecoklatan sementara Sarasah Aia Luluih berwarna kuning kehijauan.
Sarasah Bunta

Sarasah Murai

Sekitar Sarasah Murai

Sarasah Aia Luluih

Sarasah Aia Luluih

Menaiki batu besar di kolam Sarasah Aia Luluih

Di sekitar air terjun banyak warung-warung penjual mie instan dan karupuak mie, souvenir, kaos, serta tanaman hias. Terdapat 1 tanaman hias yang menurut saya unik karena ditumbuhi rambut-rambut panjang berwarna coklat sehingga lebih mirip kucing atau anjing dibanding tumbuhan. HAHAHA..
Karupuak Mie

Penjual souvenir

Tanaman Paku yang berambut


Kopmil Ijo, Payakumbuh
Sesampainya kembali ke Kota Payakumbuh, Jorgi mengajak saya nongkrong di salah satu tempat paling hits dan gaul se-Payakumbuh. Kopmil Ijo namanya. Menu yang dijual disini adalah berbagai varian kopi dan coklat dengan mixing cadburry, oreo, atau cincau yang bisa dipesan dingin atau panas. Juga terdapat makanan ringan seperti kentang goreng, roti bakar, nugget atau kebab.
Minuman di Kopmil Ijo

Sate In-Bur, Danguang-Danguang
Sejak pertama kali cobain sate In-Bur Danguang-Danguang di hari pertama tiba di rumah Jorgi, saya udah berjanji pasti bakal makan nih sate lagi. Setelah belasan sate padang dicoba, sate in-bur Danguang-Danguang tetap berpredikat sebagai sate favorit saya. Balik lagi, saya lebih suka makan daging sapi yang kalo digigit nggak nyangkut di gigi dan sate in-bur inilah jawabannya. Selain karena emang rempah-rempah kuningnya berasa banget ya. Lagi, saya lebih suka makan satenya tanpa kuah. Jadi kuahnya dimakan pake lontongnya dulu, terus kita ngemil sate dagingnya.

Balik-balik ke rumah bawain oleh-oleh pisang coklat karamel tapi ternyataaaa eh ternyata, di rumah ada Razak dan Naifa yang juga bawain oleh-oleh serupa. HAHAHA

Danau Danau Danau! (Day 14 – Minggu, 8 Februari 2015)

Bangun tidur disambut oleh 10 porsi sate padang. Ah, tante Yos pemilik rumah memang baik hati. Bangun tidur, daku sudah disambut dengan berbungkus-bungkus sate padang lengkap dengan kripik baladonya.
Siap-siap pamit! Briannya gendut banget, 2 minggu di SumBar naik 8 kilo :3

Setelah mandi dan makan, kami pun berpamitan (enak banget yaaaak). Hari ini juga nggak kalah seru dannn beberapa destinasi kami adalah:

Teluk Bayur
Teluk Bayur adalah nama pelabuhan yang sangat familiar bagi saya. Bagaimana tidak, semasa kecil saya sering berkunjung ke rumah nenek di daerah Tanjung Perak Surabaya yang memiliki alamat Jalan Teluk Bayur, dan akhirnya saat ini saya berkesempatan melihat Pelabuhan Teluk Bayur yang sesungguhnya. Di sepanjang pantai, nampak kapal-kapal tongkang, juga perahu kecil penduduk dan beberapa orang yang sedang memancing. Bahkan, dari kejauhan saya melihat seseorang yang memancing di tengah laut sambil berdiri hingga yang nampak hanya kepalanya saja. What a hobby! Terdapat pula kera-kera jinak di pinggir jalan. Beberapa diantaranya asik bermain dengan para pengendara yang menyempatkan diri untuk berhenti dan naik ke atap mobil.
Jika Anda perhatikan dengan seksama, itu yang kecil nongol di tengah adalah orang lagi mancing! 
Beberapa kera yang kami temui di pinggi jalan

Perbukitan Menuju Solok
Om berencana mengajak kami ke Solok, daerah yang terkenal akan danau kembar dan danau Singkaraknya. Rasa-rasanya, perjalanan hari ini akan bertema danau Sob.

Kami melalui jalan penuh lika-liku, ditemani tebing curam, jurang, kebun teh dan pemandangan alam menyejukkan mata lainnya. Yang tidak menyejukkan adalah, kami sempat kena tilang polisi yang sedang melakukan patroli karena tante nggak pake safety belt. Maklum, di Payakumbuh khususnya Taeh Baruah, pakai safety belt atau helm bagi pemotor masih tidak terlalu populer. Belum di level kebutuhan dan kesadaran gitu lah istilahnya.
Jackpot!
Di Sitinjau Lauik, kami berhenti. Selain karena pemandangan yang memukau, terdapat rombongan klub moge (motor gede) yang juga sedang berhenti. Alhasil, Jorlan, Tatan, Om, dan Tante sibuk minta difotoin di moge favorit masing-masing. Hanya sebentar kami berhenti di Sitinjau Lauik, Jorgi udah nggak tahan minta cariin toilet umum. Hrrrgh.
Pemzndangan di Sitinjau Lauik
Tante berfoto dengan moge
Tidak jauh dari sana, kami akhirnya menemukan WC umum dengan warung peristirahatan di dekatnya. Sebenernya belum terlalu laper, tapi karena om dan tante ngajak makan siang, yaudahlah hayuk. Tanpa disangka, warung sesederhana itu masakannya lamaaaak bana! Jadi malu udah bilang nggak terlalu laper kalo sampe nambah nasi 2 piring.
Murah meriah gini enaknya selangit Sob!


Air Terjun Tepi Jalan
Belum benar-benar sampai di Solok, kami melihat air terjun di tepi jalan dan langsung meminta om untuk berhenti sebentar. Pengen coba teknik low speed/ slow shutter gitu deh. Sebenarnya air terjun ini nggak terlalu gimana-gimana alias biasa aja. Di depan air terjun bahkan dibangun tempat untuk mencuci kendaraan dengan beberapa selang yang airnya mengalir dari puncak air terjun.


Panorama Danau Di Atas – Danau Di Bawah
Inilah salah satu (atau salah dua ya?) danau yang terkenal di Solok yaitu Danau Kembar yang terdiri dari Danau Di Atas dan Danau Di Bawah. Semakin kita naik, berarti kita akan melihat Danau Di Bawah (karena danau hanya bisa dilihat dari atas, makanya disebut Danau Di Bawah). Sedangkan ketika kita melanjutkan perjalanan dengan mobil ke daerah yang lebih rendah, maka kita akan menemukan Danau Di Atas.

Di Danau Di Atas, kami menemukan seorang bapak pemain seruling dengan kostum unik. Bapak tersebut memakai penutup kepala yang terbuat dari uang logam, baik uang logam yang saat ini masih berlaku maupun uang logam tempo dulu. Sedangkan di Danau Di Bawah, kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau dan menuju daratan seberang. Disini kita bisa menikmati stroberi dan durian hasil perkebunan masyarakat sekitar. Namun karena hari sudah semakin sore sementara Danau Singkarak masih lumayan jauh, kami tidak berlama-lama di danau kembar.
Perjalanan melihat Danau Di Bawah
Berbagai ladang di sekitar Danau Di Bawah

Bapak Pemain Seruling

Wefie dengan latar Danau Di Bawah

Sebuah Gazebo di Danau Di Atas

Kita dapat menyewa kapal untuk berkeliling di Danau Di Atas

Danau Singkarak, Solok
Kami sampai di Danau Singkarak sesaat sebelum matahari terbenam. Dibanding Danau Kembar, Danau Singkarak lebih ramai pengunjung dan penjual makanan. Mungkin karena Tour De Singkarak yang memang populer diantara masyarakat dunia.

Disini, kami menikmati sunset sembari makan pensi (kerang rebus berbumbu rempah) dengan lahapnya. Selain pensi, disini juga banyak penjaja makanan lain seperti mie instan, aneka minuman, jus buah, gorengan, dan lain-lain.
Rebutan pensi
Tatan foto dengan latar Danau SIngkarak


Kopi Kawa Daun
Sekitar pukul 9 malam, sebelum memasuki Payakumbuh, kami mampir ke kedai Kopi Kawa Daun. Meskipun saya tidak terlalu menggemari kopi, namun saya sadar kalau kopi disini memang cukup unik. Selain disajikan dengan menggunakan batok kelapa sebagai cangkirnya, rasa kopi disini juga lebih kuat dan terkesan mengandung rempah tertentu. Kita juga bisa menikmati aneka gorengan sembari menyeruput kopi untuk menangkal dinginnya udara sekitar. Namun sayang, gorengannya udah banyak yang abis. Tinggal tempe dan pisang goreng aja Sob. Padahal kan daku pecinta bakwan atau tahu. Hiks.
Sampe rumah tante, langsung unpacking dan tepar. Capek tapi seru banget!

Kopi Kawa Daun

Seruput dulu kopinyaaa